Ada banyak keindahan di dunia. Tapi tak ada yang lebih indah dari saat kita mengalami derita tapi masih mampu meringankan penderitaan orang lain.
SULUT BASUARA.COM, Renungan – Tentu kita mengenal lagu Yesus Kawan Yang Sejati.
Lagu itu kerap kali terdengar di acara perkabungan.
Nadanya memang lirih.
Liriknya menyayat hati. Lagu itu memang punya nuansa berkabung.
Penciptanya adalah Joseph M Scriven, seorang yang mengalami dua perkabungan tragis.
Awalnya pengkhotbah asal Irlandia ini adalah seorang pria beruntung.
Dia dianugerahi karir yang cemerlang, kekayaan plus tunangan cantik.
Sang tunangan punya segalanya.
Selain cantik, ia juga baik hati dan dari keluarga kaya. Benar – benar pasangan serasi. Setelah berpacaran cukup lama, keduanya memutuskan menikah.
Sehari sebelum hari bahagia itu terjadi tragedi. Sang tunangan mati tenggelam.
Joseph patah hati. Depresi berat.
Ia kemudian pergi ke Canada, melanjutkan studi.
Di sana Joseph menata hidup dan perlahan mulai move on.
Ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik dan keduanya jatuh cinta.
Namun sejarah berulang lagi. Sang gadis meninggal karena penyakit, beberapa hari sebelum keduanya menikah. Joseph kembali patah hati.
Ia kemudian menyendiri di sebuah sungai. Namun bukan untuk mengutuk kegelapan. Tapi menyalakan lilin. Ia sering membantu orang miskin.
Suatu hari, Joseph mendengar kabar ibunya di Irlandia sakit keras. Ia pun menulis surat dari tempat tinggalnya di Irlandia. Surat itu isinya sajak. “What a friend we have in Jesus”.
Yesus kawan yang sejati.
Ia pun wafat pada usia 67 tahun dengan cara yang sama dengan sang tunangan pertama. Tenggelam. Warga sekitar yang mengetahui kebaikannya mendirikan sebuah tugu peringatan untuk mengenang Iman Joseph. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Joseph ?. Disinilah kita memahami bahwa penderitaan bisa jadi alat Tuhan untuk membawa berkat bagi sesama. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat pilihan. Segala sesuatu itu tak hanya kesenangan, prestasi atau kekayaan, tapi bisa juga penderitaan. Yang diberi kesuksesan, jangan sombong karena itu semua dari Tuhan. Sedang yang menderita, jangan mengutuk Tuhan. Karena penderitaan itu adalah tanda kehadiran Tuhan dalam dirimu.
Itu tanda hadirat Tuhan.
Tanda Tuhan sedang mencangkul ladang di dalam hatimu untuk membersihkan kotoran di dalamnya.
Penderitaan punya dua dimensi. Pertama membangun diri. Kedua membangun orang lain. Derita membuat manusia naik level. Dari lemah menjadi kuat.
Banyak pemimpin dunia yang ditempa penderitaan di masa kecil.
Nah setelah diri kuat, ia akan menguatkan sesamanya.
Kemenangan kita atas derita akan menjadi kesaksian bagi orang orang yang tengah bergumul dalam penderitaan.
Ada banyak keindahan di dunia. Tapi tak ada yang lebih indah dari saat kita mengalami derita tapi masih mampu meringankan penderitaan orang lain.
Saat kita sendiri susah tapi dapat membantu orang lain. Saat kita diterpa kemalangan tapi masih membantu orang lain yang alami kemalangan. Itulah hadirat Tuhan. Di sana Charles Scriven pernah berlutut dan mengumandangkan penghiburan bagi dunia lewat lagu yang indah meski ia sendiri tak pernah pulih dari luka cinta. Kita juga akan berlutut di sana. Menghibur sesama saat kita sebenarnya butuh dihibur.
(AriaGama)







