MANADO, SULUTBASUARA.COM – Gemuruh suara ribuan jemaat di kawasan Pohon Kasih, Megamas, seketika hening saat prosesi jalan salib dimulai. Di tengah teriknya matahari Boulevard Manado, Rabu (08/04/2026), sosok pria yang memikul salib kayu itu tampil begitu totalitas. Ia adalah Arthur Kapada, pria di balik peran sentral Yesus Kristus dalam drama kolosal Paskah Nasional 2026.
Penampilan khusyuk Arthur menyita perhatian publik. Namun, siapa sangka, di balik kemampuannya menghidupkan suasana sakral tersebut, Arthur adalah seorang pria sederhana yang sehari-harinya bergelut dengan sisir dan gunting rambut.
Sehari-hari, Arthur mengelola sebuah barbershop mandiri di Kelurahan Sukur, Kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara. Jauh dari lampu panggung, ia lebih terbiasa melayani pelanggan yang ingin merapikan penampilan.
Ditemui di kediamannya pada Kamis (09/04/2026), Arthur mengaku sama sekali tidak menyangka terpilih memerankan sosok Yesus dalam ajang berskala nasional tersebut.
”Awalnya saya merasa ragu dan tidak percaya diri. Rasanya tanggung jawab ini terlalu besar,” ungkap Arthur dengan nada rendah hati.
Namun, dorongan dari orang-orang terdekat serta penguatan dari pendeta di jemaatnya, GMIM Musafir Sukur, akhirnya meluluhkan keraguannya. “Pendeta bilang, anggaplah ini sebagai pelayanan. Itulah yang memantapkan niat saya untuk ikut,” ujar Atang, panggilan kesehariannya.
Bagi Arthur, memerankan Yesus bukan sekadar aksi teatrikal di atas panggung. Ada proses batin yang mendalam yang ia rasakan selama menjalani peran tersebut. Dengan jujur, ia mengakui bahwa selama ini dirinya bukanlah sosok yang tergolong rajin beribadah.
”Jujur, saya merasa Tuhan sangat memampukan saya kemarin. Di momen Paskah ini, saya berharap peran tersebut bisa mengubah pribadi saya menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.
Melalui pengalaman spiritual ini, sang tukang cukur rambut dari Minut ini bertekad untuk lebih setia dalam beribadah. Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi pengingat bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja bahkan dari profesi paling sederhana sekalipun untuk menyampaikan pesan kasih-Nya.
Perhelatan Paskah Nasional di Manado kali ini tidak hanya sukses secara seremonial, tetapi juga meninggalkan jejak transformasi bagi mereka yang terlibat di dalamnya, termasuk bagi seorang Arthur Kapada.
(JEMMY)





