Terungkap di FGD, Kisah Persahabatan Tondano dan Suku Bajo di Pulau Nain

oleh -214 dilihat
oleh

SULUT BASUARA.COM – Potensi budaya di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) perlu dihidupkan untuk menunjang KEK Pariwisata di Likupang.

Pengembangan budaya akan membuat pariwisata di KEK kian menarik, kaya serta original.

Itulah kesimpulan dari Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pariwisata berbasis budaya untuk menunjang KEK Likupang” di ruang lantai 3 kantor Bupati Minut, Sabtu (19/6/2021).

Hajatan tersebut digelar oleh Bumi Lestari, Genpi Minut, Pemkab Minut serta yayasan keluarga besar Maramis.

Tampil sebagai pembicara Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Drs Fendy Parengkuan, Dr Ivan Kaunang SS.M.Hum, Dr Edwin Wantah M.PD.MA, Ambrosius Loho S.Fils.M.Fill, Hendri Gunawan S.S.MA, Steven Sumolang S.Sos.M.Si, Nando Pangemanan ST, Audy Sambul S.Sos dan Reinard Wewengkang.

Bupati Minut Joune Ganda diwakilkan pada kepala dinas Pariwisata Minut Audy Sambul.

Fendy Parengkuan membeber, kebudayaan adalah sumber inspirasi utama bagi pariwisata. “Budaya membuat pariwisata jadi original. Contohnya budaya Minahasa tentu hanya ada di Minahasa,” katanya.
Menurutnya butuh
konsep untuk mengintegrasikan pariwisata dan budaya.

Ia menyodorkan konsep cluster serta tapal kuda. “Kita bisa buat Culster Likupang Tatelu, Cluster Dimembe, Cluster Airmadidi, Cluster Kema dan lainnya. Saya usulkan ada sembilan cluster. Kemudian tapal kuda adalah konsep bersandingnya seluruh potensi wisata di Sulut dengan Likupang jadi mata rantainya,” kata dia.

Dikatakan Fendy, ada banyak keunikan budaya di Minut yang belum tuntas digali. Contohnya benang merah antara orang Tondano dan orang bajo di Pulau Nain Minut. “Ini yang harus kita eksplore,” ujarnya.

Steven Sumolang mengatakan, Likupang kaya budaya karena masyarakatnya sangat heterogen. “Ada budaya pesisir masyarakat Sangihe, budaya pertanian seperti mapalus di Minahasa. Ada pula pengolahan tradisional semisal kopra dan lainnya,” kata dia.

Ia memperingatkan tentang bahaya yang mengancam budaya. Salah satunya alih fungsi lahan.
Tantangannya agar jangan sampai alih fungsi lahan untuk kegiatan pariwisata akan mematukan budaya yang merupakan sumber inspirasi utama pariwisata.
“Alih fungsi lahan bisa berpengaruh terhadap budaya,” ujar dia.

Edwin Wantah menekankan penggalian budaya yang dapat memberikan impact ekonomi. Menurutnya, banyak cerita rakyat Likupang yang bisa digali untuk jadi jualan kepada turis asing. “Contoh kuala mati di Likupang. Nama itu ternyata ada sejarahnya,” kata dia.

Ivan Kaunang menegaskan pembangunan pariwisata berbasis budaya harus sustainable. Menurutnya, upacara adat harus dijadikan festival. “Dan jangan dilupakan, basis budaya adalah rakyat,” kata dia.

Ia menyoroti pembangunan di Sulut yang tidak berlandaskan kebudayaan padahal sudah ditetapkan sebagai daerah pariwisata. “Di Sulut, politik jadi panglima. Beda dengan di Jogja atau Bali dimana kebudayaan jadi panglima,” ujarnya.

Ambrosius Loho menuturkan tentang budaya yang sudah dimodifikasi untuk menarik perhatian turis. Dengan tanpa mengurangi unsur kesakralan budaya itu sendiri.

FGD tersebut membuka ruang tanya jawab dengan publik.
Ipak Fahriani, peneliti dari Balai Arkeologi Sulut yang terundang dalam kegiatan tersebut membeber fakta menarik.

Sebutnya daerah Likupang Timur yang masuk area KEK pariwisata punya ratusan waruga.

Ini dapat menjadi daya tarik tersendiri di KEK selain laut dan pemandangan alam lainnya. “Tapi saya khawatir kejadian perusakan dan penyingkiran waruga kembali berulang. Untuk itu perlu ada undang undang atau perda yang menjamin perlindungan benda purbakala,” katanya.

Hendra Gunawan menuturkan Minut butuh pokok pokok kebudayaan daerah sebagai road map pembangunan wisata.  Sebagai penyelenggara, dirinya berjanji akan menyelenggarakan FGD lanjutan dengan topik lebih mengerucut

Audy Sambul mengatakan siap menindaklanjuti hasil FGD dalam kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.