,

Nyawa yang Terenggut demi Buku dan Pena: Potret Kelam Kemiskinan di Ngada NTT

oleh -99 dilihat
oleh

NGADA, NTT, SULUTBASUARA.COM – Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. YBS, seorang bocah berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, memilih mengakhiri hidupnya hanya karena rasa putus asa yang mendalam.

Alasan di baliknya sangat menyayat hati ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk membelikan buku dan pena yang harganya tak sampai sepuluh ribu rupiah.

Kebun di sekitar pondok sederhana milik neneknya menjadi saksi bisu saat YBS mengembuskan napas terakhir. Sebelum pergi, ia meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk ibunya yang berisi pesan perpisahan yang luar biasa tegar sekaligus memilukan.
“Mama, saya pergi dulu. Mama, relakan saya pergi. Mama, jangan sedih ataupun menangis ya. Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal mama,” tulis YBS dalam goresan tangan terakhirnya.

YBS diketahui tinggal bersama neneknya sejak kecil, sementara ibunya berjuang sendirian setelah berpisah dengan sang ayah sejak YBS masih dalam kandungan. Tekanan ekonomi yang akumulatif tampaknya menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh pundak sekecil itu.

Tragedi ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk aktivis asal Minahasa Utara, William Luntungan. Ia menegaskan bahwa kejadian ini adalah kegagalan kolektif, baik dari sisi negara maupun lingkungan sosial.
“Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 jelas mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kejadian ini adalah cambuk bagi kita semua. Ke mana tetangga? Ke mana pemerintah desa?” ujar William dengan nada prihatin.

​Ia juga menyoroti carut-marutnya pendataan bantuan sosial seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Menurutnya, seringkali bantuan tersebut jatuh ke tangan yang salah karena kedekatan dengan pendata, sementara warga yang benar-benar membutuhkan justru luput dari perhatian. “Bantuan pendidikan seperti PIP yang seharusnya memberikan dana Rp450.000 hingga Rp1 juta per tahun seharusnya hadir untuk mencegah putus sekolah dan membiayai kebutuhan personal siswa seperti buku dan seragam,”tutup Luntungan

Tragedi YBS menjadi pengingat bagi Pemerintah Desa dan Kelurahan untuk lebih teliti dalam mendata warga miskin. Kepekaan sosial antar tetangga juga perlu dibangkitkan kembali agar tidak ada lagi anak yang merasa sendirian dalam menghadapi kemiskinan.

​Nyawa seorang anak terlalu mahal untuk ditukar dengan ego dan kelalaian sistem. Semoga YBS menjadi yang terakhir, dan tidak ada lagi “pena yang tak terbeli” yang berujung pada hilangnya nyawa.

 

(JEMMY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.