SULUTBASUARA.COM, NGADA, NTT – Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. YBS, seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, memilih mengakhiri hidupnya di sebuah kebun dekat pondok neneknya.
Latar belakang ekonomi diduga kuat menjadi pemicu aksi nekat ini. Rasa putus asa yang menumpuk memuncak ketika sang ibu tak mampu memenuhi permintaan sederhana anaknya: buku dan pena seharga tak sampai 10 ribu rupiah.
Sebelum pergi untuk selamanya, YBS meninggalkan goresan tangan terakhir yang menyayat hati. Dalam sepucuk surat kecil, ia berusaha menenangkan ibunya agar tidak larut dalam kesedihan.
“Mama, saya pergi dulu. Mama, relakan saya pergi. Mama, jangan sedih ataupun menangis ya. Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal mama.”
Kehidupan YBS memang tidak mudah. Sejak dalam kandungan, sang ibu telah berpisah dengan ayahnya. Ia tumbuh besar dalam kesederhanaan di bawah asuhan sang nenek di sebuah pondok kecil.
Kejadian ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk aktivis kemanusiaan asal Minahasa Utara, William Luntungan.
Ia menilai tragedi ini bukan hanya kegagalan negara, tapi juga kegagalan lingkungan sosial dalam bertetangga.
”Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 jelas mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun, tragedi di NTT ini menjadi cambuk bahwa hal ini juga tanggung jawab kita semua sebagai warga negara,” tegas William.
Beliau juga menyoroti bobroknya sistem pendataan dan penyaluran bantuan di lapangan yang sering kali tidak tepat sasaran:
“Program-program bansos jangan sampai jatuh ke tangan yang tidak berhak. Berdasarkan pengalaman, bukan sedikit keluarga mampu yang justru mendapat bansos hanya karena faktor kedekatan dengan petugas pendata. Hal ini membuktikan ada yang salah dalam sistem pendataan warga miskin,” tambah William dengan nada prihatin.
William berharap Pemerintah Desa atau Kelurahan lebih teliti agar tidak ada lagi warga miskin yang luput dari perhatian pemerintah sementara mereka yang mampu justru menikmati jatah bantuan.
Hilangnya nyawa seorang anak adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah ketidaktahuan atau ketidakpedulian. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih membuka diri dan peka terhadap kesulitan orang-orang di sekitar.
Semoga YBS menjadi korban terakhir, dan tidak ada lagi tunas bangsa yang harus menyerah pada keadaan hanya karena kurangnya uluran tangan sesama dan ketidakadilan sistem birokrasi.
(JM)





