Manado, SULUTBASUARA.COM – Di balik ketegangan ruang sidang Pengadilan Negeri Manado, terselip sebuah momen kehangatan yang amat menyentuh hati. Hari Senin (13/10/2025), dalam rangkaian sidang lanjutan kasus dana hibah Pemprov Sulut ke Sinode GMIM, fokus perhatian tak hanya tertuju pada jalannya proses hukum, tapi juga pada ikatan kasih tak terputus antara seorang anak dan ayahnya.
Kristi Karla Arina, putri dari Pdt. Hein Arina, kembali membagikan unggahan yang menjadi cerminan rindu dan dukungan tak bertepi. Momen persidangan, yang seharusnya menjadi suasana penuh tekanan, justru berubah menjadi kesempatan berharga untuk bertemu.
Kesempatan yang Paling Ditunggu
Melalui unggahannya, Kristi mengungkapkan betapa ia menanti hari-hari persidangan ayahnya.
“Momen yang paling ditunggu dihari senin dan rabu, kalau istirahat makan siang, karna boleh batemang akang pa opa gode” tulis Kristi, menggunakan panggilan akrab nan lembut untuk sang ayah.
“Opa Gode” (Kakek Besar/Gendut) yang dimaksud adalah Pdt. Hein Arina, yang kini harus menjalani proses hukum. Ungkapan ini tidak hanya lugu, namun sarat makna tentang kerinduan seorang anak yang merayakan setiap detik waktu yang bisa ia habiskan bersama ayahnya, meskipun di lingkungan pengadilan.
Denting Harapan dan Doa Lewat Nada
Tak hanya kata-kata, Kristi juga melengkapi postingannya dengan iringan lagu yang semakin memperkuat pesan hatinya: lagu dari Nadhif Basalamah. Lirik yang dipilih terasa sangat pribadi dan mewakili doa serta harapan seorang anak di tengah cobaan yang dihadapi ayahnya:
“Aku ingin jadi teman nyamanmu, Tempat kau hilangkan keluh kesahmu…”
“Ku tak ingin cepat berlalu, Waktu yang kupunya denganmu…”
Lirik ini merangkum keinginan terdalam Kristi untuk menjadi sandaran dan penenang bagi Pdt. Hein Arina. Mereka membayangkan momen-momen ringan “berbincang tak karuan tanpa beban” dan harapan agar waktu kebersamaan ini dapat “bergema sampai selamanya”.
Unggahan ini seolah menyentil sisi kemanusiaan dalam drama persidangan.
Di tengah isu dana hibah yang menuai polemik dan “gigitan” tajam hukum, cinta keluarga tetap menjadi benteng terkuat.
Kisah Kristi dan Pdt. Hein Arina mengingatkan publik bahwa di balik figur seorang pendeta atau terdakwa, ada seorang ayah yang dirindukan dan didukung oleh hati putrinya.
Catatan Redaksi: Unggahan Kristi Karla Arina menjadi pengingat yang menyentuh, bahwa di tengah badai hukum, kasih sayang adalah energi yang tak pernah padam.
(JEMMY)







