Klaim Pemilik Lahan Tanpa Bukti Lengkap, PT.MSM/TTN Arogansi Terhadap Penambang Tatelu

oleh -152 dilihat
oleh

SULUTBASUARA.COM Minut – Sala satu perusahan tambang raksasa di Sulawesi Utara PT MSM/TTN yang merupakan anak dari Perusahan PT Archi Indonesia diduga rampas hak hidup rakyat.

 

Hak hidup tersebut berupa lahan tambang rakyat di Desa Tatelu Raya, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) yang diklaim milik perusahaan padahal tak memiliki alas hak yang sah atas salah satu lahan tersebut.

 

Pantauan langsung media ini di lokasi tambang rakyat Tatelu pada Kamis (8/6/2023) dengan arogan tim keamanan dari pihak perusahaan memaksa untuk menutup lubang yang sementara dikelola oleh Esau Dipan (Kepala jaga 6 Desa Tatelu).

 

Spontan hal itupun mendapat perlawanan dari warga yang tidak terima atas klaim sepihak dari pihak perusahan.

 

Sikap arogansi dari orang-orang anak perusahan PT Archi Indonesia,Tbk ini semakin digenapi dengan hadirnya sosok pria dengan menggunakan kemeja, topi dan masker yang menyebutkan dirinya sebagai perwakilan dari PT MSM/TTN.

 

Saat itu pria yang mengaku sebagai Supervisor Security PT TTN berinisial LS hadir dan meminta waktu kepada masyarakat penambang untuk berbicara. Kepada warga dengan tegas LS mengatakan bahwa lahan tersebut adalah milik perusahaan dan harus segera ditutup.

 

“Saya wakil dari perusahaan, ada juga dari Pam Obvid. Perlu saya jelaskan lokasi ini milik perusahaan sesuai AJB yang ada di Polres. Kasus telah naik keranah hukum, di Satreskrim Polres Minut penyidiknya Aiptu Apson, sudah proses penyidikan. Jadi lahan ini milik PT MSM/TTN berdasarkan UU karena lahan tersebut masuk dalam Objek Vital Nasional (Obvitnas),” katanya dengan nada keras

 

Dari pernyataan yang dilontarkan oleh perwakilan PT MSM/TTN wartawan yang ada di lokasi mencoba untuk mengkonfirmasi terkait pernyataan tersebut

 

Namun sikap arogansi dan terkesan ‘panang enteng’ dari pria tersebut nampak terlihat karena ketika ditanyakan oleh wartawan dia langsung membalikkan badan untuk menjauh dari para kuli tinta yang ada di lokasi.

 

Hal tersebut selain membuat masyarakat marah termasuk para wartawan yang dibuat geram oleh perwakilan PT MSM/TTN. Pasalnya, tak ada respon baik dari pihak perusahaan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilempar oleh para wartawan.

 

Terdesak oleh kebutuhan hidup sehari-hari sementara pihak perusahan terus melakukan intimidasi terhadap mereka, para penambang pun memilih terus beraktivitas tanpa mau meladeni, pihak perusahaan.

 

Pantang menyerah siap mati, para penambang pun mulai masuk lubang dan sisanya bersiap dipermukaan, menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi.

 

“Bila harus dibunuh, kami sudah pasrah daripada kami harus duduk diam dan mati lapar, menunggu kejelasan,” ucap para warga.

 

Beberapa saat kemudian perwakilan perusahan dan Security meninggalkan lokasi.

 

Namun berselang dua jam kemudian, perwakilan perusahan bersama security kembali lagi ke lokasi berupaya menghentikan aktivitas warga penambang yang menurut mereka adalah tindak lanjut perintah perusahan

 

Kembali suasana menjadi tegang, warga tetap berjuang menjaga lokasi, mengingat di dalam lubang tersebut ada sekitaran 20 orang sementara bekerja

 

“Kamu jangan pegang tali itu, ada pekerja didalam berbahaya, kasihan saudara-saudara kita yang dalam lubang,” katanya dengan suara keras.

 

Security itu kaget dan mundur dengan cepat tanpa melihat ke belakang, kalau ada fully blok. Akibatnya, bagian pinggang security tersebut tampak memar karena benturan itu.

 

Pihak perusahaan terus bersikukuh menutup lokasi, sehingga beberapa penambang pun terus berkoar, namun tidak ada upaya untuk beradu fisik.

 

“Sekali lagi kami minta, perusahaan pakailah rasa kemanusiaan. Kami disini hanya cari makan untuk menyambung hidup kami. Kami hormati hukum dan undang-undang. Tapi jangan tutup lubang ini karena didalam lubang ada puluhan manusia, kami bukan binatang,” pinta Joshua salah satu penambang.

 

“Kami juga menyesalkan, sampai saat ini perusahaan tidak pernah wujudkan janji mereka. Sampai detik ini kami selalu diancam, silahlanberurusan dengan polres, sementara kami tidak pernah melihat AJB maupun legalitas resmi perusahaan,” sambung salah satu penambang Alwin Lumataw

 

Hingga berita ini diturunkan dari pihak perusahaan belum memberikan konfirmasi terkait masalah ini. Sementara di lokasi tambang warga masih terus berjaga-jaga.

 

(Jemmy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.